Friday, 8 February 2013

Legenda Dhanapala part2

Dear Lia

Hari kedua Lia mencoba untuk berangkat kantor menggunakan angkutan publik. Ia mencoba untuk naik metromini yang sering melintas dekat gang kosannya. Tak perlu waktu lama baginya untuk menunggu angkutan tersebut.
Angkutan ini seperti kumpulan keleng yang diberi roda dan mesin sehingga bisa berjalan, pikirnya.

Sesaat setelah ia naik, muncul beberapa pemuda dengan kaos yang kumal, dan seorang mengenai warna pink, warna yang dibenci Lia. Pemuda dengan baju warna pink kumal memegang pisau silet sambil berkata "Yak bapak-bapak, Ibu-Ibu, Mbak-Mbak, Mas-Mas, kami lapar Pak, Bu. Daripada kami mencuri, daripada kami merampok, daripada kami memperkosa, kami cuma mau minta sedikit dari bapak-bapak dan Ibu-Ibu. Apalah artinya uang seribu dua ribu rupiah bagi bapak ibu sekalian, tidak akan membuat bapak ibu menjadi miskin" hal ini diteriakkan pemuda belasan tahun sambil menggoreskan pisau siletnya di atas permukaan kulitnya. muncul beberapa tetes darah.

Anehnya bagi Lia, penumpang yang lain seolah sudah biasa dengan hal ini, mereka tidak kelihatan ketakutan. beberapa memberikan uang kepada mereka, tapi sebagian tidak. Pemuda yang bertugas untuk meminta, memaksa orang yang tidak memberi dengan mendorong-dorongkan "bungkus sumbangannya" kepada setiap orang yang tak mau "menyisihkan uangnya". Ia sengaja memancing masalah, pikir Lia.

Tiba giliran Lia, pemuda itu meminta sumbangan dengan sedikit menggoda, Lia menyerahkan selembar ribuan rupiah pecahan terkecil miliknya (Rp.1000,00). Setelah menerimanya, pemuda tersebut mencoba untuk mencolek wajah cantik Lia. Dan sepertinya seluruh mata lelaki pasti melirik ke Lia karna wanita itu sangat cantik dengan wajah kebarat-baratan. Lia langsung mengambil pulpen yang ada di tasnya dan menusuk tangan pemuda tersebut. Darah menyembur seketika Lia mencabut pulpen dari tangan pemuda itu. Sontak pemuda yang lain mencoba membantu temannya, Lia langsung memutar posisi menyandera pemuda yang tangannya sedang berdarah. "Mencoba mendekat, tangan teman mu patah!" ancam Lia.

"Hei Perek, Jangan macam-macam lu......" balas pemuda itu
"ARGHHHHHH" teriak pemuda tadi yang tangannya berdarah. rupanya tangan pria itu benaran patah.
melihat hal tersebut pemuda-pemuda tersebut kabur dan loncat dari metromini.

"Lu bisa lebih sopan gak ke wanita?" teriak lia pada pemuda yang tangannya berdarah (dan tangan yang satunya lagi patah). seluruh penumpang bus menatap kejadian itu dengan ngeri (kecuali pak supir yang sepertinya menganggap kemacetan Jakarta lebih menantang).
"ampun mbak, eh Bu,bisa bu, bisa."
sialan, umur gw masih 25, pikir Lia. "TURUN LU SANA"
si pemuda langsung lompat dari metromini.

Beberapa saat kemudian. Lia tiba di kantor, dengan baju bernoda darah.
Ia akan semakin membenci warna pink karna hari itu

No comments:

Post a Comment