Dear Lia
Hari kedua Lia mencoba untuk berangkat kantor menggunakan angkutan publik. Ia mencoba untuk naik metromini yang sering melintas dekat gang kosannya. Tak perlu waktu lama baginya untuk menunggu angkutan tersebut.
Angkutan ini seperti kumpulan keleng yang diberi roda dan mesin sehingga bisa berjalan, pikirnya.
Sesaat setelah ia naik, muncul beberapa pemuda dengan kaos yang kumal, dan seorang mengenai warna pink, warna yang dibenci Lia. Pemuda dengan baju warna pink kumal memegang pisau silet sambil berkata "Yak bapak-bapak, Ibu-Ibu, Mbak-Mbak, Mas-Mas, kami lapar Pak, Bu. Daripada kami mencuri, daripada kami merampok, daripada kami memperkosa, kami cuma mau minta sedikit dari bapak-bapak dan Ibu-Ibu. Apalah artinya uang seribu dua ribu rupiah bagi bapak ibu sekalian, tidak akan membuat bapak ibu menjadi miskin" hal ini diteriakkan pemuda belasan tahun sambil menggoreskan pisau siletnya di atas permukaan kulitnya. muncul beberapa tetes darah.
Anehnya bagi Lia, penumpang yang lain seolah sudah biasa dengan hal ini, mereka tidak kelihatan ketakutan. beberapa memberikan uang kepada mereka, tapi sebagian tidak. Pemuda yang bertugas untuk meminta, memaksa orang yang tidak memberi dengan mendorong-dorongkan "bungkus sumbangannya" kepada setiap orang yang tak mau "menyisihkan uangnya". Ia sengaja memancing masalah, pikir Lia.
Tiba giliran Lia, pemuda itu meminta sumbangan dengan sedikit menggoda, Lia menyerahkan selembar ribuan rupiah pecahan terkecil miliknya (Rp.1000,00). Setelah menerimanya, pemuda tersebut mencoba untuk mencolek wajah cantik Lia. Dan sepertinya seluruh mata lelaki pasti melirik ke Lia karna wanita itu sangat cantik dengan wajah kebarat-baratan. Lia langsung mengambil pulpen yang ada di tasnya dan menusuk tangan pemuda tersebut. Darah menyembur seketika Lia mencabut pulpen dari tangan pemuda itu. Sontak pemuda yang lain mencoba membantu temannya, Lia langsung memutar posisi menyandera pemuda yang tangannya sedang berdarah. "Mencoba mendekat, tangan teman mu patah!" ancam Lia.
"Hei Perek, Jangan macam-macam lu......" balas pemuda itu
"ARGHHHHHH" teriak pemuda tadi yang tangannya berdarah. rupanya tangan pria itu benaran patah.
melihat hal tersebut pemuda-pemuda tersebut kabur dan loncat dari metromini.
"Lu bisa lebih sopan gak ke wanita?" teriak lia pada pemuda yang tangannya berdarah (dan tangan yang satunya lagi patah). seluruh penumpang bus menatap kejadian itu dengan ngeri (kecuali pak supir yang sepertinya menganggap kemacetan Jakarta lebih menantang).
"ampun mbak, eh Bu,bisa bu, bisa."
sialan, umur gw masih 25, pikir Lia. "TURUN LU SANA"
si pemuda langsung lompat dari metromini.
Beberapa saat kemudian. Lia tiba di kantor, dengan baju bernoda darah.
Ia akan semakin membenci warna pink karna hari itu
Legenda Dhanapala
Friday, 8 February 2013
Tuesday, 5 February 2013
legenda Dhanapala part 1 (Ini Namanya Cinta)
Dear Alex
"Pernah gak lu ketemu seseorang untuk pertama kalinya, dan lu tertarik sama tu orang, dan terus lu mau kenalan sama dia, tapi ga jadi, dan sekarang lu nyesal gak kenalan sama dia?" Alex bertanya pada Romeo.
Romeo berfikir sejenak dengan gaya khas filusuf, sebenter menyandarkan kepala pada tangan kanannya, sebentar mengelus-elus "janggut bayangannya" (Romeo tidak berjanggut), dan kadang berdehem-dehem sendiri.
"Eh, gimana menurut lu? pernah kagak?" tanya Alex lagi.
"Ini namanya demam penyesalan" jawab Romeo
"Maksud lu?"
"Gini lek, sepertinya semua orang pernah begitu, kita berjalan, lalu berpapasan dengan seseorang, lalu saling memandang, namun tak ada kata terucap. Malamnya baru merasakan demam penyesalan karna tak berani menyapa."
"Nah gw merasa gitu rom, tapi baru ketemu tadi pagi sih, waktu gw mau ke kantor naik baja hitam gw (baja hitam adalah nama sepeda Alex)"
"HA HA HA, cewek mana? musisi?" serbu Romeo bertanya
"Kagak bro, dia anak DJPB juga, masih anak baru kayaknya"
"Wow, pasti cantik, boleh nih?"
"Setan lu, semua cewek kantor mau lu embat? gila lu"
"hehhehe, kagak lagi dah, kan gw dah bilang, gw lagi jatuh cinta sama seseorang"
"Nah, gantian lu yang cerita, lu ngajak gw makan siang plus ngebayarin makanan gw pasti ada maunya kan?"
"Setan lu, gw ga ada janji ngebayarin lu.
gini lek (red: Alex dipanggil lek oleh Romeo), gw lagi suka ma anak kantor kita"
"cewek atau cowok?"
"SETAN LU, CEWEK LAH" Romeo tanpa tersadar berteriak
Sekarang seluruh jamaah kantin memperhatikan mereka, dan Alex tertawa cekikikan sendiri.
"Oke oke, siapa gerangan? kayaknya seluruh pegawai kantor yang CE-WEK (dengan nada d=do) udah pernah dekat ama lu"
"Ngomong ceweknya biasa aja donk, jangan dikerasin gitu. gw lagi naksir ama Bu Nadia. tapi kayaknya ini cinta bro"
"BRURRR", minuman Alex langsung menyembur mengenai muka Romeo.
untung Romeo sempat menghindar walau sedikit terlambat, "SETAN LU, jangan pake jurus nyembur gitu napa?"
"Lu serius suka ama Bu Nadia? dia kan kepala seksi kita? lebih tua 3 tahun dari kita, lu serius?"
"Ya bro, kayaknya ini namanya cinta"
"Aish, oke dah selamat berjuang untuk cinta kawan" sahut Alex
"Eh mau kemana lu?"
"Balik kantor lah, udah jam 1 ne, jam kerja jangan cinta-cintaan mulu"
"Setan lu Lek"
"Eh makasih ya dibayarin, bye", Alex langsung nyelonor pergi.
"SETAN LU LEK"
"INI YANG NAMANYA CINTA BUNG, CINTA ITU NIKMAT." Teriak Alex sambil berlalu pergi
"Pernah gak lu ketemu seseorang untuk pertama kalinya, dan lu tertarik sama tu orang, dan terus lu mau kenalan sama dia, tapi ga jadi, dan sekarang lu nyesal gak kenalan sama dia?" Alex bertanya pada Romeo.
Romeo berfikir sejenak dengan gaya khas filusuf, sebenter menyandarkan kepala pada tangan kanannya, sebentar mengelus-elus "janggut bayangannya" (Romeo tidak berjanggut), dan kadang berdehem-dehem sendiri.
"Eh, gimana menurut lu? pernah kagak?" tanya Alex lagi.
"Ini namanya demam penyesalan" jawab Romeo
"Maksud lu?"
"Gini lek, sepertinya semua orang pernah begitu, kita berjalan, lalu berpapasan dengan seseorang, lalu saling memandang, namun tak ada kata terucap. Malamnya baru merasakan demam penyesalan karna tak berani menyapa."
"Nah gw merasa gitu rom, tapi baru ketemu tadi pagi sih, waktu gw mau ke kantor naik baja hitam gw (baja hitam adalah nama sepeda Alex)"
"HA HA HA, cewek mana? musisi?" serbu Romeo bertanya
"Kagak bro, dia anak DJPB juga, masih anak baru kayaknya"
"Wow, pasti cantik, boleh nih?"
"Setan lu, semua cewek kantor mau lu embat? gila lu"
"hehhehe, kagak lagi dah, kan gw dah bilang, gw lagi jatuh cinta sama seseorang"
"Nah, gantian lu yang cerita, lu ngajak gw makan siang plus ngebayarin makanan gw pasti ada maunya kan?"
"Setan lu, gw ga ada janji ngebayarin lu.
gini lek (red: Alex dipanggil lek oleh Romeo), gw lagi suka ma anak kantor kita"
"cewek atau cowok?"
"SETAN LU, CEWEK LAH" Romeo tanpa tersadar berteriak
Sekarang seluruh jamaah kantin memperhatikan mereka, dan Alex tertawa cekikikan sendiri.
"Oke oke, siapa gerangan? kayaknya seluruh pegawai kantor yang CE-WEK (dengan nada d=do) udah pernah dekat ama lu"
"Ngomong ceweknya biasa aja donk, jangan dikerasin gitu. gw lagi naksir ama Bu Nadia. tapi kayaknya ini cinta bro"
"BRURRR", minuman Alex langsung menyembur mengenai muka Romeo.
untung Romeo sempat menghindar walau sedikit terlambat, "SETAN LU, jangan pake jurus nyembur gitu napa?"
"Lu serius suka ama Bu Nadia? dia kan kepala seksi kita? lebih tua 3 tahun dari kita, lu serius?"
"Ya bro, kayaknya ini namanya cinta"
"Aish, oke dah selamat berjuang untuk cinta kawan" sahut Alex
"Eh mau kemana lu?"
"Balik kantor lah, udah jam 1 ne, jam kerja jangan cinta-cintaan mulu"
"Setan lu Lek"
"Eh makasih ya dibayarin, bye", Alex langsung nyelonor pergi.
"SETAN LU LEK"
"INI YANG NAMANYA CINTA BUNG, CINTA ITU NIKMAT." Teriak Alex sambil berlalu pergi
Monday, 4 February 2013
Legenda Dhanapala 1 (on the road)
dear Lia
Pagi itu Lia sudah mempersiapkan segalanya. Hari ini adalah hari yang baru sekaligus hari pertama kepindahannya ke kantor pusat di Jakarta. Lia sudah menjadi seorang PNS sejak 2 tahun lalu. Kali ini ia dipindahkan ke kantor pusat.
Pagi itu Lia sudah mempersiapkan segalanya. Hari ini adalah hari yang baru sekaligus hari pertama kepindahannya ke kantor pusat di Jakarta. Lia sudah menjadi seorang PNS sejak 2 tahun lalu. Kali ini ia dipindahkan ke kantor pusat.
'yap, sekarang 6.45, semua sudah beres. Tinggal keluar dari kos dan ambil taksi', pikir Lia.
Menunggu 5 menit, taksi pun datang. Memang kawasan kosan Lia sangat sering dilalui taksi, walau pada malam hari. perjalanannya ke kantor pusat tidak akan memakan waktu lebih dari 30 menit walau jakarta senantiasa macet.
tetapi,
taksi yang ditumpangi tiba-tiba dicegat oleh sebuah kendaraan, sang sopir terkejut dan merem mendadak. Lia memang sudah sering mendengar akan adanya tindak kejahatan di kendaraan di Jakarta. tapi tidak ada hal yang ia takutkan. Ia punya beberapa alasan, yang pertama, ini masih pagi hari dan banyak orang di sekitar. Yang kedua, penjahat bodoh mana yang mau merampok dari taksi dengan menggunakan sebuah sepeda (yap yang menghadang taksinya adalah sebuah SEPEDA), dan alasan terakhir yang paling kuat adalah ia seorang wanita yang memegang sabuk hitam karate (walau bentuk tubuhnya sangat langsing dan singset).
si pengemudi sepeda kemudian turun bersamaan dengan sang sopir keluar dari mobil.
dari pandangan Lia di bangku belakang terlihat mereka sedang bercakap-cakap agak lama,
1 menit......,
2 menit......,
3 menit......,
akhirnya Lia keluar dari kursi penumpang, "ada apa pak?" (dengan nada yang menunjukkan sedikit kewibawaan)
sang sopir berkata," oh maaf neng, tidak ada apa-apa, ayo kita lanjut neng."
"sekali lagi maaf ya neng" kata sang supir sekali lagi dengan nada yang ceria.
lia membalas,"ayo donk pak, ini hari pertama saya kerja, saya gak mau telat."
sang supir dengan sigap berkata,"baik neng"
sang pria yang menghadang memandang kepada Lia, dari kepala sampai dada.
lalu ia berkata,"tenang aja, gak bakal telat. lagian TL 1 bisa diganti kok"
lia tidak mengerti dan langsung masuk kembali ke dalam mobil.
tepat pukul 7.15 Lia sudah sampai di kantornya.
ia melapor pada atasannya sambil memperkenalkan dirinya.
atasannya yang baru bernama Jiwo.
Pak Jiwo berujar bahwa untuk sementara Ia akan menjadi PIC (Person In Charge) atau atasan langsung Lia. nanti dia akan dipindahkan ke bagian lain yang lebih membutuhkan tenaga baru.
tidak banyak hal yang dia lakukan di hari pertamanya, hanya mengobrol dengan beberapa rekan kerja dan makan siang di kantin. Nia yang menjadi teman pertama Lia di kantor barunya mengajaknya makan siang bersama.
"aku mau balik ne, Nia ga balik?" ajak Lia pulang
"aduh, tadi aku TL 1, jadi belum bisa balik sekarang, dulaan aja, hati-hati" sahut Nia
agak bingung Lia mencernanya, istilah TL baru satu kali, eh dua kali dia dengar.
pertama tadi pagi dan sekarang, tapi dia mengiyakan saja. terkadang karena Lia kurang jelas mendengar seseorang berbicara, Dia hanya mengabaikan saja.
"okey, Aku duluan ya, see u tomorrow?"
"bye" balas Nia.
di sore hari tepat pukul lima, Lia kembali ke kosannya.
banyak hal yang ia ingin lakukan terhadap kosan barunya ini
si pengemudi sepeda kemudian turun bersamaan dengan sang sopir keluar dari mobil.
dari pandangan Lia di bangku belakang terlihat mereka sedang bercakap-cakap agak lama,
1 menit......,
2 menit......,
3 menit......,
akhirnya Lia keluar dari kursi penumpang, "ada apa pak?" (dengan nada yang menunjukkan sedikit kewibawaan)
sang sopir berkata," oh maaf neng, tidak ada apa-apa, ayo kita lanjut neng."
"sekali lagi maaf ya neng" kata sang supir sekali lagi dengan nada yang ceria.
lia membalas,"ayo donk pak, ini hari pertama saya kerja, saya gak mau telat."
sang supir dengan sigap berkata,"baik neng"
sang pria yang menghadang memandang kepada Lia, dari kepala sampai dada.
lalu ia berkata,"tenang aja, gak bakal telat. lagian TL 1 bisa diganti kok"
lia tidak mengerti dan langsung masuk kembali ke dalam mobil.
tepat pukul 7.15 Lia sudah sampai di kantornya.
ia melapor pada atasannya sambil memperkenalkan dirinya.
atasannya yang baru bernama Jiwo.
Pak Jiwo berujar bahwa untuk sementara Ia akan menjadi PIC (Person In Charge) atau atasan langsung Lia. nanti dia akan dipindahkan ke bagian lain yang lebih membutuhkan tenaga baru.
tidak banyak hal yang dia lakukan di hari pertamanya, hanya mengobrol dengan beberapa rekan kerja dan makan siang di kantin. Nia yang menjadi teman pertama Lia di kantor barunya mengajaknya makan siang bersama.
"aku mau balik ne, Nia ga balik?" ajak Lia pulang
"aduh, tadi aku TL 1, jadi belum bisa balik sekarang, dulaan aja, hati-hati" sahut Nia
agak bingung Lia mencernanya, istilah TL baru satu kali, eh dua kali dia dengar.
pertama tadi pagi dan sekarang, tapi dia mengiyakan saja. terkadang karena Lia kurang jelas mendengar seseorang berbicara, Dia hanya mengabaikan saja.
"okey, Aku duluan ya, see u tomorrow?"
"bye" balas Nia.
di sore hari tepat pukul lima, Lia kembali ke kosannya.
banyak hal yang ia ingin lakukan terhadap kosan barunya ini
Subscribe to:
Posts (Atom)